Press "Enter" to skip to content

Energi Dunia Terancam Meledak! Mardigu Bongkar Strategi Bertahan Hadapi Resesi Global 7 Tahun

Mardigu Wowiek ungkap strategi menghadapi krisis energi global dan ancaman resesi hingga 7 tahun, dari investasi emas hingga penguatan skill individu.

PROTIMES.CO – Isu krisis energi global kembali mencuat setelah pengusaha dan pemerhati geopolitik Mardigu Wowiek mengungkapkan potensi tekanan ekonomi dunia yang bisa berlangsung hingga lima sampai tujuh tahun ke depan. Ia menyoroti kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi sebagai sinyal awal dari efek domino konflik geopolitik global, terutama yang berkaitan dengan jalur distribusi energi strategis seperti Selat Hormuz yang rentan terganggu akibat eskalasi konflik internasional.

Menurutnya, Indonesia disebut berada dalam posisi rawan jika tidak mampu menjaga kedaulatan ekonomi dan daya tawar di tengah tekanan dari negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China, yang dinilai memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas energi global.

Emas Jadi Sorotan: Strategi Bertahan di Tengah Ancaman Krisis Energi Global

Bayang-Bayang Oil Shock & Ancaman Geopolitik

Mardigu membandingkan situasi saat ini dengan peristiwa Krisis Minyak 1973 yang menyebabkan gejolak ekonomi berkepanjangan di berbagai negara. Ia menilai dampak serupa bisa terjadi kembali, bahkan lebih kompleks karena melibatkan perang modern dan gangguan pada rantai pasok global.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat pada subsidi pemerintah menjadi salah satu titik lemah yang berpotensi memperparah dampak krisis jika tidak diantisipasi sejak dini. Ia juga mengingatkan bahwa ancaman tidak hanya datang dari ekonomi, tetapi juga potensi tekanan terhadap wilayah strategis Indonesia jika kondisi nasional melemah.

Strategi Bertahan: Emas, Skill, dan Mentalitas Baru

Dalam menghadapi situasi tersebut, Mardigu menekankan pentingnya langkah antisipatif, bukan reaktif. Ia mendorong masyarakat untuk melakukan diversifikasi aset melalui logam mulia seperti emas dan perak sebagai bentuk lindung nilai terhadap depresiasi rupiah.

Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya penguasaan keahlian melalui prinsip “10.000 jam”, yang dianggap sebagai fondasi untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit. Dari sisi mentalitas, ia mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap kerugian dalam berinvestasi menjadi bagian dari proses pembelajaran. Ia juga menyinggung pentingnya kemandirian finansial melalui konsep personal metal bank agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan negara.

Pemaparan tersebut menjadi refleksi terhadap kondisi global yang dinilai semakin tidak pasti, sekaligus peringatan bagi masyarakat Indonesia untuk mulai membangun ketahanan ekonomi secara mandiri di tengah ancaman resesi dan krisis energi yang berpotensi berkepanjangan.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *