PROTIMES.CO – Kapal induk utama milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, dilaporkan mulai meninggalkan kawasan Timur Tengah dan kembali menuju Amerika Serikat setelah menjalani penugasan panjang selama lebih dari 10 bulan. Kepulangan kapal induk terbesar dan tercanggih milik Angkatan Laut AS itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan konflik dengan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.
The Guardian.com menyebut kapal induk tersebut mengalami gangguan teknis serius setelah insiden kebakaran di area fasilitas laundry kapal pada Maret lalu. Insiden itu menyebabkan sejumlah awak mengalami cedera akibat asap dan memaksa kapal menjalani perbaikan di kawasan Laut Mediterania sebelum akhirnya diputuskan kembali ke pangkalan utama di AS.
Meski demikian, media Iran sempat mengklaim kerusakan kapal terjadi akibat tekanan operasi militer dan serangan tidak langsung di kawasan konflik. Pemerintah AS membantah klaim tersebut dan menegaskan kebakaran dipicu masalah teknis internal, bukan akibat serangan tempur. Hingga kini Pentagon belum mengeluarkan pernyataan yang menyebut kapal induk tersebut lumpuh karena serangan Iran.
Situasi kawasan juga semakin panas setelah kapal selam nuklir USS Alaska muncul ke permukaan di Gibraltar sebagai bentuk demonstrasi kekuatan militer Washington. Langkah itu muncul setelah Donald Trump disebut tidak puas terhadap respons Iran terhadap pembahasan proposal damai terbaru.
Selain itu, sebuah jet tempur siluman F-35 Lightning II milik AS juga sempat mengirim sinyal darurat kode 7700 saat melintas di atas Teluk Oman sebelum mendarat darurat di Uni Emirat Arab. Kondisi tersebut semakin memperlihatkan tingginya tekanan operasi militer di kawasan Teluk.
Selat Hormuz Masuk Fase Kritis
Ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia internasional karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak global. Pemerintah AS dilaporkan meminta sejumlah kapal dagang internasional mengubah jalur pelayaran guna menghindari risiko konflik terbuka.
Di sisi lain, Iran mulai meningkatkan patroli laut menggunakan strategi “armada nyamuk”, yakni pengerahan ratusan kapal cepat bersenjata ringan untuk memantau aktivitas kapal asing di kawasan Teluk Persia. Strategi tersebut selama ini dikenal sebagai taktik tekanan Iran terhadap armada Barat.
Ketegangan diplomatik juga belum menemukan titik terang. Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi tekanan militer baru setelah negosiasi dengan Teheran mengalami kebuntuan. Iran pun merespons dengan ancaman untuk meningkatkan pengayaan uranium hingga 90 persen apabila tekanan politik dan militer terus berlanjut.
Pengamat menilai kepulangan USS Gerald Ford tidak otomatis menandakan meredanya konflik. Sebaliknya, langkah itu justru memunculkan spekulasi mengenai perubahan strategi militer AS di Timur Tengah di tengah situasi kawasan yang semakin tidak stabil.







Be First to Comment