PROTIMES.CO – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan nasional setelah pemerintah menyiapkan intervensi besar-besaran untuk menahan gejolak pasar keuangan. Menteri Keuangan Purbaya menyatakan pemerintah siap menggelontorkan dana hingga Rp2 triliun per hari guna menjaga stabilitas pasar obligasi sekaligus meredam kepanikan investor yang terus menekan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Langkah tersebut muncul di tengah tekanan berat yang terjadi di pasar keuangan nasional. Pelemahan rupiah yang terus berlanjut memicu kekhawatiran terhadap arus modal asing keluar dari Indonesia dan memperbesar tekanan terhadap pasar obligasi domestik.
Pemerintah Siapkan Intervensi Jumbo
Dalam pernyataannya, Purbaya menegaskan intervensi dilakukan melalui penguatan pasar obligasi negara agar investor tetap bertahan dan tidak melepas kepemilikan surat utang Indonesia secara besar-besaran. Pemerintah disebut menyiapkan dana kas hingga Rp20 triliun yang dapat diputar secara fleksibel untuk menjaga stabilitas pasar.
Menurutnya, langkah tersebut bukan sinyal kepanikan pemerintah, melainkan bentuk antisipasi agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan di sektor keuangan nasional. Pemerintah juga memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi aman dengan defisit fiskal tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Purbaya menegaskan kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan dengan krisis moneter 1998. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi nasional masih berjalan kuat meski pasar global sedang menghadapi tekanan besar akibat ketidakpastian ekonomi internasional dan penguatan dolar AS.
DPR Soroti Anomali Ekonomi dan Kredibilitas BI
Meski pemerintah menyampaikan optimisme, kondisi pelemahan rupiah justru memantik kritik tajam dari Komisi XI DPR RI. Dalam rapat kerja bersama otoritas ekonomi, sejumlah anggota dewan menilai terjadi anomali karena pertumbuhan ekonomi nasional tetap diklaim tinggi, tetapi nilai tukar rupiah justru terus melemah terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.
Tidak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tercatat melemah terhadap dolar Singapura, dolar Australia, euro, hingga ringgit Malaysia. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya persoalan serius dalam menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan investor.
Sorotan keras pun diarahkan kepada Bank Indonesia. Sejumlah anggota DPR mempertanyakan efektivitas kebijakan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan nasional. Bahkan dalam rapat tersebut muncul pernyataan terbuka agar Gubernur BI mempertimbangkan untuk mundur apabila dinilai tidak mampu mengendalikan tekanan ekonomi yang terus terjadi.
Dorongan Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Di tengah tekanan tersebut, DPR juga mendorong pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional.
Usulan itu mencakup transaksi impor energi, gandum, hingga kedelai menggunakan mata uang lokal bersama negara mitra dagang. Selain itu, posisi Indonesia sebagai anggota aliansi ekonomi BRICS dinilai bisa dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan ketahanan ekonomi nasional.
Langkah diversifikasi transaksi internasional itu dinilai penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada pergerakan dolar AS yang selama ini menjadi salah satu faktor utama penekan rupiah.








Be First to Comment