PROTIMES.CO – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus memaksa Bank Indonesia mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas pasar. Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar Amerika Serikat membuat BI harus melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing dan obligasi negara.
Dalam upaya meredam tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia disebut turun dari sekitar 156 miliar dolar AS menjadi 146 miliar dolar AS akibat intervensi pasar yang terus dilakukan. BI juga menyerap instrumen SRBI hingga 6,41 persen serta membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp332 triliun pada 2025, ditambah Rp133 triliun untuk menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan nasional.
Tak hanya itu, BI juga memperketat pembatasan pembelian dolar AS untuk menahan lonjakan permintaan valuta asing di tengah gejolak pasar global. Langkah tersebut menjadi bagian dari tujuh strategi utama yang diterapkan oleh otoritas moneter guna menahan tekanan terhadap rupiah.
Meski kondisi pasar masih bergejolak, BI tetap optimistis nilai tukar rupiah akan kembali bergerak menuju target rata-rata tahunan di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.000 per dolar AS setelah melewati periode Juni yang selama ini dikenal sebagai fase tingginya permintaan dolar.
Pemerintah Guyur Pasar Obligasi Demi Jaga Kepercayaan Investor
Selain langkah intervensi dari BI, pemerintah juga bergerak cepat untuk menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan investor. Pemerintah disebut menggelontorkan dana sekitar Rp2 triliun per hari ke pasar obligasi guna menahan tekanan rupiah agar tidak merosot lebih dalam.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran pasar terhadap tekanan global dan meningkatnya permintaan dolar AS yang memicu pelemahan berbagai mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemerintah berupaya memastikan arus modal tetap terjaga dan pasar keuangan nasional tidak kehilangan kepercayaan investor.
Di sisi lain, Menteri Keuangan menyatakan kondisi ekonomi domestik masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pertumbuhan ekonomi triwulan ini disebut mencapai 5,6 persen, yang didorong oleh konsumsi masyarakat sebesar 2,9 persen, investasi 1,7 persen, serta belanja pemerintah sebesar 1,3 persen.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi perhatian serius karena berpotensi berdampak langsung terhadap harga barang impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.







Be First to Comment