PROTIMES.CO – Rupiah resmi menembus level paling brutal sepanjang sejarah setelah menyentuh Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi. Tekanan kurs yang makin liar mulai menghantam harga pangan, tiket pesawat, biaya impor, hingga harga elektronik yang melonjak hampir 50 persen di pasar domestik. Situasi ini memicu alarm baru terhadap ancaman stagflasi dan ketahanan fiskal Indonesia di tengah derasnya capital outflow dan tekanan global yang belum mereda.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyebut kondisi yang terjadi bukan lagi sekadar pelemahan mata uang biasa. Ia menegaskan Indonesia sedang menghadapi “cost push inflation”, yakni inflasi akibat biaya produksi dan impor yang melonjak karena rupiah terus tertekan terhadap dolar AS. Daya beli masyarakat disebut stagnan, namun harga kebutuhan terus naik tanpa ampun.
Pemerintah Disentil Tak Punya Sense of Crisis
Wijayanto secara tajam mengkritik narasi pemerintah yang dianggap terlalu tenang menghadapi tekanan ekonomi. Ia menilai investor justru makin khawatir karena pemerintah dinilai gagal menunjukkan sense of crisis di tengah kondisi pasar yang memburuk. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini tidak bisa dianggap normal karena tekanan datang bersamaan dari sektor energi, pasar keuangan, hingga fiskal negara.

Sorotan juga diarahkan pada rencana pembentukan Bond Stability Fund (PSF) oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN). Kebijakan itu disebut kontradiktif karena sumber dananya berpotensi berasal dari penerbitan utang baru. Di sisi lain, belanja jumbo pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga anggaran belanja pertahanan dinilai menjadi beban berat APBN saat rupiah sedang goyah.
Rupiah Rp17.600 Bikin Harga Pangan dan Tiket Pesawat Naik
Tekanan ekonomi makin terasa setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi memperbolehkan maskapai membebankan fuel surcharge hingga 50 persen akibat mahalnya avtur sejak 13 Mei 2026. Sementara di pasar elektronik, harga laptop hingga komputer dilaporkan naik drastis akibat mahalnya impor berbasis dolar AS dan tingginya permintaan teknologi AI global.
Situasi diperparah setelah MSCI menurunkan bobot pasar modal Indonesia dari 0,86 menjadi 0,63 yang berpotensi memicu arus modal keluar hingga 3,4 miliar Dolar AS. Wijayanto juga mengingatkan pemerintah agar menghentikan kebijakan mendadak yang memicu kepanikan investor, termasuk wacana pemeriksaan ulang aset peserta tax amnesty yang disebut dapat mempercepat capital outflow.







Be First to Comment