PROTIMES.CO – Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pelemahan mata uang domestik berpotensi meningkatkan biaya impor energi sekaligus menambah beban subsidi pemerintah.
Pada penutupan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, rupiah melemah 55 poin atau 0,30 persen menjadi Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak menghadapi risiko ketika harga energi meningkat bersamaan dengan pelemahan nilai tukar. Kondisi tersebut dapat menaikkan biaya pengadaan energi dan memperbesar kebutuhan belanja subsidi.
Harga Minyak Naik, Beban APBN Ikut Tertekan
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui peningkatan biaya impor minyak, subsidi energi, serta kompensasi kepada Pertamina.
Ibrahim juga menyoroti sensitivitas fiskal Indonesia terhadap perubahan sejumlah asumsi ekonomi makro.
Berdasarkan perhitungan yang disampaikannya, setiap kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 0,1 poin persentase dapat memperlebar defisit sekitar Rp1,9 triliun. Sementara itu, depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS diperkirakan dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar.
Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).
Ibrahim menyebut asumsi ICP dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel, sedangkan realisasinya hingga akhir September 2026 telah mencapai US$91,9 per barel.
Ia juga mencatat belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September 2026 mencapai Rp376,8 triliun, meningkat 54,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator besarnya tekanan belanja energi yang perlu diperhatikan pemerintah. Namun, dampak akhirnya terhadap defisit APBN tetap bergantung pada perkembangan harga minyak, nilai tukar, penerimaan negara, serta kebijakan energi yang diterapkan.
Analis Proyeksikan Rupiah Bergerak Fluktuatif
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek.
Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS untuk perdagangan berikutnya.
Proyeksi tersebut merupakan perkiraan analis, bukan kepastian nilai tukar yang akan terjadi.
Selain harga minyak, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan global, permintaan dolar AS, arus modal asing, serta persepsi investor terhadap risiko ekonomi Indonesia.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang impor, termasuk bahan baku industri dan sejumlah produk konsumsi. Jika tekanan berlangsung lama, kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga jual barang dan jasa.
Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mencermati perkembangan nilai tukar serta harga energi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Di sisi fiskal, pengelolaan subsidi dan belanja negara menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perubahan harga minyak dunia.













Be First to Comment