PROTIMES.CO – Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah cepat merespons tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat. Dalam agenda mendadak di Istana Negara, Jakarta, Presiden secara resmi memanggil jajaran menteri ekonomi, Gubernur Bank Indonesia, hingga CEO Danantara untuk menggelar rapat terbatas membahas strategi penyelamatan rupiah.
Pemanggilan tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran pasar terhadap pelemahan mata uang nasional akibat tekanan global yang terus meningkat. Sejumlah pejabat tinggi negara terlihat tiba di kompleks Istana Kepresidenan untuk menghadiri rapat penting tersebut.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa, CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, hingga Gubernur BI Perry Warjiyo.
Pertemuan itu disebut fokus membahas formulasi kebijakan strategis guna memperkuat stabilitas pasar keuangan nasional serta menahan tekanan rupiah agar tidak melemah lebih dalam di tengah gejolak global dan tingginya permintaan dolar AS.
Pemerintah Guyur Rp2 Triliun per Hari ke Pasar Obligasi
Dalam keterangannya usai rapat, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengungkapkan pemerintah memutuskan untuk menggelontorkan dana sebesar Rp2 triliun per hari ke pasar obligasi atau bond market sebagai langkah intervensi langsung untuk menjaga sentimen positif investor.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kepercayaan pasar sekaligus menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir terus mengalami volatilitas tajam. Pemerintah berharap masuknya modal negara secara rutin ke pasar obligasi mampu mendorong investor asing kembali masuk ke pasar domestik.
Strategi intervensi ini juga diharapkan dapat menciptakan kestabilan pergerakan rupiah dalam beberapa minggu mendatang. Pemerintah optimistis kombinasi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia mampu menjaga kondisi pasar tetap terkendali meski tekanan eksternal masih tinggi.
Rapat terbatas di Istana tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap tekanan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan nasional dan daya beli masyarakat.







Be First to Comment