PROTIMES.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47 persen pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal II 2026 yang sebesar 5,29 persen.
Namun, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut menyisakan pertanyaan penting: mengapa sebagian masyarakat masih merasakan tekanan ekonomi, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Data BPS yang diumumkan pada Kamis (5/11/2026) menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun.
Sementara berdasarkan harga konstan, PDB tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun.
Pertumbuhan 5,47 persen tersebut juga melampaui perkiraan konsensus sejumlah ekonom yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan sekitar 5,20 persen.
Meski demikian, capaian tersebut belum menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan daya beli, harga pangan, biaya transportasi, dan tekanan pengeluaran rumah tangga.
Konsumsi Rumah Tangga Tumbuh, tetapi Tekanan Daya Beli Masih Menjadi Sorotan
BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Komponen ini memiliki kontribusi sekitar 51,97 persen terhadap PDB nasional.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto meningkat 6,06 persen.
Dari sisi perdagangan internasional, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,59 persen.
Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif. Namun, pertumbuhan secara agregat tidak selalu menggambarkan kondisi ekonomi yang dirasakan setiap keluarga.
BPS juga menanggapi keluhan masyarakat mengenai kondisi ekonomi di tengah pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan PDB merupakan gambaran perekonomian secara keseluruhan, sehingga dampaknya tidak selalu dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat.
Karena itu, perkembangan harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, pendapatan, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup tetap menjadi indikator penting.
Pemerintah Dihadapkan pada Tantangan Menjaga Daya Beli
Pemerintah menyatakan akan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penguatan konsumsi domestik, investasi, stabilitas harga pangan dan energi, serta berbagai program perlindungan sosial.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah optimistis momentum pertumbuhan tetap terjaga memasuki kuartal IV 2026.
Sejumlah indikator pendukung antara lain PMI manufaktur Oktober 2026 sebesar 54,0 dan Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 sebesar 118,1.
Namun, tantangan tetap muncul dari tekanan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada akhirnya perlu diikuti peningkatan kesejahteraan yang dirasakan langsung masyarakat.
Bagi pemerintah, pekerjaan berikutnya bukan hanya mempertahankan angka pertumbuhan, tetapi memastikan aktivitas ekonomi mampu memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat daya beli masyarakat.







Be First to Comment