PROTIMES.CO — Gelombang demonstrasi mahasiswa selama hampir dua tahun berujung pada perubahan politik besar di Serbia. Gerakan politik yang didukung mahasiswa berhasil mengalahkan koalisi pimpinan Partai Progresif Serbia (SNS) dalam pemilihan parlemen pada 25 Oktober 2026, mengakhiri dominasi partai tersebut setelah sekitar 14 tahun berkuasa.
Kemenangan itu disambut dengan perayaan puluhan ribu warga di Beograd, ibu kota Serbia, serta sejumlah kota lainnya. Massa turun ke jalan, membunyikan klakson kendaraan, menyalakan kembang api, dan meneriakkan slogan kemenangan setelah Aleksandar Vučić mengakui kekalahan kubu politiknya.
Hasil pemilu tersebut menjadi puncak perjuangan mahasiswa yang selama ini menggelar demonstrasi antikorupsi dan menuntut pertanggungjawaban pemerintah. Gerakan itu berkembang menjadi kekuatan politik yang mampu menghimpun dukungan dari berbagai kelompok masyarakat.
Menurut laporan Reuters pada 26 Oktober, dengan hampir seluruh suara telah dihitung, daftar kandidat yang didukung mahasiswa meraih sekitar 52,7 persen suara atau 139 kursi dari total 250 kursi parlemen. Sementara itu, koalisi pimpinan SNS memperoleh sekitar 39,2 persen suara atau 97 kursi.
Berawal dari Tragedi Stasiun Kereta, Demonstrasi Mahasiswa Membesar
Gelombang protes di Serbia bermula setelah runtuhnya kanopi di stasiun kereta api Novi Sad pada 1 November 2024. Tragedi tersebut menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan masyarakat yang menuntut transparansi serta pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian dan korupsi dalam proyek infrastruktur.
Mahasiswa kemudian mengorganisasi demonstrasi dan aksi blokade yang berlangsung selama berbulan-bulan. Gerakan tersebut meluas dengan melibatkan dosen, pekerja, tenaga profesional, dan warga yang menuntut perubahan dalam tata kelola pemerintahan.
Isu antikorupsi menjadi salah satu penggerak utama demonstrasi. Para pengunjuk rasa juga menyuarakan tuntutan mengenai independensi lembaga publik, kebebasan sipil, serta perbaikan sistem pendidikan.
Tekanan politik yang terus meningkat mendorong Vučić untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden pada September 2026 dan mengumumkan pemilihan parlemen lebih awal. Ia kemudian mengakui kekalahan kubu politiknya setelah hasil pemungutan suara menunjukkan keunggulan gerakan yang didukung mahasiswa.
Kemenangan tersebut memperlihatkan bagaimana gerakan protes yang awalnya berfokus pada tuntutan pertanggungjawaban dapat berkembang menjadi kekuatan elektoral. Namun, perubahan politik ini juga membuka tantangan baru mengenai pembentukan pemerintahan dan pelaksanaan agenda reformasi.
Puluhan Ribu Warga Rayakan Kemenangan, Masa Depan Serbia Jadi Sorotan
Perayaan berlangsung di Beograd dan sejumlah kota lainnya setelah Vučić mengakui kekalahan. Warga memenuhi jalan-jalan utama, mengibarkan bendera Serbia, menyalakan kembang api, serta merayakan hasil pemilu yang mengakhiri dominasi politik SNS.
Bagi para pendukung gerakan mahasiswa, kemenangan tersebut menjadi momentum untuk mendorong perubahan dalam pemberantasan korupsi, tata kelola lembaga negara, dan pelayanan publik.
Meski demikian, kemenangan dalam pemilu tidak otomatis menyelesaikan persoalan yang selama ini memicu demonstrasi. Gerakan mahasiswa kini menghadapi tantangan untuk menyatukan berbagai kelompok pendukung, menentukan arah pemerintahan, serta menerjemahkan tuntutan demonstrasi menjadi kebijakan yang dapat dijalankan.
Komposisi kandidat yang didukung gerakan mahasiswa juga mencakup beragam latar belakang profesional. Hal ini membuat pembentukan pemerintahan dan penentuan kepemimpinan berikutnya menjadi salah satu perhatian setelah pemilu.
Selain agenda domestik, pemerintahan baru nantinya harus menentukan arah hubungan Serbia dengan Uni Eropa, Rusia, dan China. Ketiga mitra tersebut memiliki kepentingan berbeda dalam hubungan ekonomi, energi, investasi, dan diplomasi Serbia.
Perkembangan di Serbia menjadi contoh penting bagaimana demonstrasi berkepanjangan dapat memengaruhi dinamika politik melalui jalur pemilihan umum. Namun, keberhasilan gerakan mahasiswa dalam pemilu baru merupakan awal dari proses perubahan yang akan diuji melalui pembentukan pemerintahan dan pelaksanaan kebijakan.







Be First to Comment