]PROTIMES.CO – Pasar keuangan Indonesia mulai merespons pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) dengan pergerakan yang relatif terkendali. Di tengah transisi setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dipercaya sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia.
Meski sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, Bank Indonesia menegaskan bahwa arah kebijakan moneter tidak mengalami perubahan. Seluruh instrumen stabilisasi nilai tukar, inflasi, serta sistem keuangan tetap dijalankan sesuai strategi yang telah disusun sebelumnya.
Dalam pernyataannya, Destry Damayanti mengimbau investor dan pelaku pasar agar tidak bereaksi secara berlebihan terhadap dinamika kepemimpinan tersebut.
“Tidak perlu berspekulasi. Bank Indonesia tetap menjalankan tugas menjaga stabilitas ekonomi dan moneter,” tegasnya.
Sikap tersebut menjadi sinyal bahwa kesinambungan kebijakan menjadi prioritas utama guna menjaga kepercayaan pasar domestik maupun investor global.
IHSG Bergerak Sideways, Mayoritas Sektor Menguat
Pada perdagangan Selasa (28/7/2026) pukul 09.00 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis sebesar 0,05 persen.
Dari total 11 sektor di Bursa Efek Indonesia, sebanyak tujuh sektor mencatat penguatan, sementara empat sektor lainnya bergerak di zona merah.
Analis menilai pergerakan IHSG sepanjang hari berpotensi berlangsung sideways dengan volatilitas moderat, seiring dengan pelaku pasar yang masih mencermati berbagai sentimen domestik maupun global.
Meski demikian, penguatan awal perdagangan menunjukkan investor masih menaruh kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.
Rupiah Melemah, Sentimen Global Masih Membayangi
Berbeda dengan IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru mengalami tekanan.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah sekitar 0,41 persen ke posisi Rp18.074 per dolar AS.
Pengamat menilai pelemahan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek akibat transisi kepemimpinan Bank Indonesia, meskipun faktor eksternal masih menjadi penyebab dominan.
Di tingkat global, pasar masih dibayangi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat masih akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama atau dikenal dengan kebijakan higher for longer.
Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski menghadapi berbagai tantangan global, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas moneter, nilai tukar, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui bauran kebijakan yang konsisten.












Be First to Comment