Press "Enter" to skip to content

BMKG Bantah Isu Air Laut Krakatau Menyusut

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda setelah erupsi dan pemantauan kondisi laut oleh BMKG untuk mengantisipasi potensi tsunami.

PROTIMES.co – Aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan penurunan setelah rangkaian erupsi pada awal September 2026. Namun, kondisi tersebut belum berarti ancaman berakhir. Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan.

Setelah mengalami aktivitas erupsi yang berlangsung selama sekitar 25 jam pada 4–6 September, aktivitas gunung api tersebut berangsur berubah menjadi letusan yang lebih kecil atau bersifat strombolian.

Berdasarkan rekomendasi keselamatan, masyarakat maupun wisatawan masih dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

Video Air Laut Menyusut Viral, BMKG: Tidak Ada Anomali Tsunami

Di tengah aktivitas erupsi, muncul video yang viral di media sosial yang memperlihatkan kondisi air laut di pesisir Lampung dan kawasan Selat Sunda seolah-olah menyusut drastis hingga menampakkan kapal yang sebelumnya berada di dalam air.

Fenomena tersebut kemudian memicu kekhawatiran masyarakat karena dikaitkan dengan kemungkinan tsunami.

Namun, BMKG memastikan hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami di Selat Sunda terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan melalui berbagai sensor muka laut dan sistem pemantauan tsunami.

BMKG juga terus memantau kondisi laut di sekitar Selat Sunda menggunakan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung. Pada pemantauan 7 September, probabilitas tsunami berada dalam kategori rendah.

Warga Diminta Waspada, Bukan Panik

Meredanya aktivitas erupsi bukan alasan untuk mengabaikan kewaspadaan. BMKG masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk dampaknya terhadap kondisi laut, atmosfer dan sebaran abu vulkanik.

BMKG sebelumnya juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan informasi resmi BMKG, PVMBG serta instansi terkait sebagai rujukan utama.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda juga diminta memahami jalur dan lokasi evakuasi serta mengikuti instruksi pemerintah apabila sewaktu-waktu terjadi perubahan status atau diterbitkan peringatan resmi.

Dengan kondisi saat ini, pesan utama pemerintah dan lembaga pemantau bencana adalah tetap waspada tanpa panik.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau memang mulai mereda, tetapi status Siaga menunjukkan bahwa potensi bahaya masih harus diperhitungkan. Sementara itu, klaim mengenai air laut menyusut yang dikaitkan dengan tsunami belum didukung oleh data pemantauan BMKG.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *