PROTIMES.CO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai bergerak menguat ke kisaran Rp17.700 per dolar AS setelah sempat menyentuh titik terlemahnya pekan lalu di level Rp18.188. Penguatan ini dinilai oleh para pelaku pasar dan pengamat ekonomi sebagai respons positif terhadap komitmen disiplin fiskal yang ditunjukkan pemerintah, terutama terkait rencana penataan ulang tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa evaluasi mendasar ini mendesak dilakukan menyusul ditemukannya potensi pemborosan anggaran negara hingga Rp1 triliun per bulan atau setara dengan Rp12 triliun per tahun. Berdasarkan laporan internal, pemborosan tersebut dipicu oleh pembengkakan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak terkendali di lapangan.
“Ada penambahan sebanyak 6.877 titik baru di luar perencanaan awal. Padahal, jika merujuk pada cetak biru kebijakan, target awal SPPG dipatok hanya 21.000 titik. Indikasi awal menunjukkan pembengkakan ini disebabkan oleh adanya praktik komersialisasi atau jual beli titik SPPG di banyak wilayah, termasuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T),” ujar Zulkifli Hasan dalam keterangan resminya.
Menanggapi temuan ini, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan tengah menghitung ulang kebutuhan pendanaan riil di lapangan. Proses penataan ulang ini ditargetkan rampung secara menyeluruh dalam waktu satu bulan ke depan.
“Langkah ini bukan pemangkasan esensi program, melainkan hasil perhitungan ulang yang lebih cermat. Kami meyakini proses penataan ini akan mengurangi total kebutuhan anggaran belanja program secara signifikan agar sesuai dengan realitas kebutuhan riil di lapangan,” kata Prasetyo Hadi.
Dihubungi secara terpisah, Ekonom sekaligus Dosen Tetap Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Zikri Firmansyah Hakam, menilai pergeseran arah kebijakan ini memberikan sentimen positif bagi kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor global.
“Sebelumnya ada kekhawatiran besar di pasar bahwa pemerintah terlalu agresif mengejar pertumbuhan ekonomi (pro-growth) melalui belanja yang sangat ekspansif di tengah keterbatasan ruang fiskal. Begitu pemerintah menunjukkan kesediaan untuk mengevaluasi skala dan efektivitas belanja MBG, pasar membaca ini sebagai komitmen menuju kebijakan yang lebih berimbang (balanced) dan stabil,” urai Zikri.

Namun demikian, Zikri menggarisbawahi bahwa perbaikan pos fiskal domestik barulah satu dari sekian faktor penggerak rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, penguatan rupiah ke level Rp17.776 per dolar AS pada 16 Juni juga sangat dipengaruhi oleh melemahnya Indeks Dolar global yang turun ke posisi 99,55, memberikan ruang napas bagi mata uang negara berkembang (emerging markets).
Di sisi kebijakan moneter, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,5% juga terbukti efektif memulihkan daya tarik aset keuangan domestik. Aliran dana asing (capital inflow) yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI dilaporkan telah mencapai hampir Rp20 triliun, seiring dengan aksi investor yang mulai melepas dolar untuk memburu aset rupiah.
Kendati menunjukkan tren positif, Zikri mengingatkan Bank Indonesia agar tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan moneter atau menurunkan suku bunga dalam waktu dekat demi menjaga momentum stabilitas. Pemerintah juga diminta tetap mewaspadai risiko inflasi lanjutan akibat penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni lalu.
“Walaupun inflasi Mei masih terkendali di angka 3,08%, ada efek tunda (lagging effect) dari biaya logistik dan distribusi yang menggunakan BBM non-subsidi. Pemerintah pusat dan daerah harus memastikan rantai pasok pangan tetap lancar agar penguatan rupiah ini benar-benar berdampak konkret terhadap pemulihan daya beli masyarakat luas, bukan sekadar angka statistik yang indah di pasar keuangan,” pungkasnya.







Be First to Comment