PROTIMES.CO – Ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh sekitar 150 drone tempur milik Amerika Serikat serta merusak sejumlah jet tempur dalam operasi udara besar di kawasan Timur Tengah. Konflik udara yang disebut terjadi pada 25 Mei 2026 pukul 03.00 dini hari itu kini menjadi sorotan dunia setelah media pemerintah Iran merilis rekaman visual dan simulasi kerusakan fasilitas militer Amerika di kawasan tersebut.
Menurut laporan media Iran, operasi pencegatan dilakukan setelah sistem pertahanan udara Iran mendeteksi penguncian rudal dari pesawat militer Amerika Serikat yang memasuki wilayah udara Iran Selatan. Dalam klaim yang disampaikan IRGC, selain drone pengintai MQ-9, Iran juga mengaku berhasil menghalau sejumlah jet tempur siluman F-35 milik AS yang disebut mencoba melakukan penetrasi wilayah strategis Iran.
Pihak militer Amerika Serikat sendiri membantah sebagian klaim tersebut dan menyebut operasi udara yang mereka jalankan merupakan langkah pertahanan diri untuk menjaga stabilitas kawasan serta melindungi pangkalan militer AS di Timur Tengah. Namun, hingga kini belum ada penjelasan detail dari Pentagon terkait jumlah kerugian yang disebut Iran.
Iran Sebar Video AI dan Klaim Kerusakan Besar
Ketegangan semakin meningkat setelah media Press TV Iran merilis serangkaian video visualisasi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang menggambarkan kerusakan masif terhadap fasilitas militer Amerika Serikat. Dalam tayangan tersebut, Iran mengklaim sedikitnya 228 fasilitas militer AS mengalami kerusakan akibat operasi serangan balasan dan sistem pertahanan udara mereka.
Video yang beredar memperlihatkan simulasi ledakan besar, kerusakan hanggar militer, hingga gangguan operasional pesawat tempur di sejumlah pangkalan AS di kawasan Timur Tengah. Iran menyebut data kerusakan yang dirilis Pentagon selama ini tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Situasi ini memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah, terutama karena kawasan tersebut menjadi pusat jalur energi dan perdagangan global. Sejumlah analis menilai perang informasi dan propaganda digital kini menjadi bagian penting dalam konflik modern, termasuk penggunaan teknologi AI untuk membangun opini publik global.







Be First to Comment