PROTIMES.CO – Dunia langsung tersentak saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz, jalur energi paling vital dunia, sementara sekutu utamanya justru menolak ikut, membuka potensi krisis global yang tak terduga.
Penutupan Selat Hormuz disebut dimulai sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, hanya beberapa saat setelah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan dinyatakan gagal total. Keputusan ini langsung mengubah dinamika geopolitik global dalam hitungan jam.
Militer Amerika Serikat bergerak cepat. Kapal induk USS Gerald Ford dilaporkan telah dikerahkan bersama armada pendukung dan pesawat pengebom strategis untuk mengamankan kawasan. Washington bahkan mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba keluar masuk pelabuhan Iran.

Menurut pernyataan resmi, kegagalan diplomasi dipicu oleh sikap Iran yang menolak menghentikan produksi senjata nuklir secara permanen. Langkah blokade ini disebut sebagai upaya menekan Teheran agar tunduk pada tuntutan internasional.
Namun, langkah agresif tersebut justru memicu retakan serius di tubuh aliansi Barat. Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak secara terbuka menolak kebijakan tersebut dan memastikan negaranya tidak akan terlibat dalam blokade.
Ia bahkan menyebut serangan terhadap infrastruktur sipil sebagai tindakan yang “menjijikkan” dan tidak dapat dibenarkan, sekaligus mendesak deeskalasi serta solusi diplomatik segera ditempuh.
Sikap Inggris ini menjadi sinyal kuat bahwa soliditas sekutu Barat mulai goyah di tengah meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah.
Dari sisi lain, China turut angkat suara. Beijing memperingatkan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan internasional yang krusial dan tidak boleh dijadikan arena konfrontasi militer. Seruan diplomasi kembali ditegaskan untuk mencegah dampak global yang lebih luas.
Jika blokade ini berlanjut, pasokan minyak dunia berpotensi terganggu dan harga energi global bisa melonjak tajam dalam waktu singkat, situasi yang dapat memicu tekanan ekonomi di berbagai negara.
Sementara itu, Iran merespons keras. Parlemen Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah bagian dari kedaulatan nasional yang tidak bisa dinegosiasikan dengan pihak mana pun, termasuk Amerika Serikat.
Ketegangan semakin meningkat setelah muncul laporan penggunaan rudal jelajah Tomahawk missile yang diduga menghantam fasilitas sipil, termasuk sekolah, dan menyebabkan ratusan korban jiwa.
Peristiwa ini memicu gelombang protes global. Ribuan warga dilaporkan turun ke jalan di sejumlah negara, mulai dari Iran hingga Jepang, menuntut penghentian agresi militer dan mendorong solusi damai segera.
Dengan eskalasi militer yang terus meningkat, retaknya hubungan sekutu Barat, serta tekanan global yang semakin besar, krisis di Selat Hormuz kini memasuki fase baru yang berisiko tinggi terhadap stabilitas dunia—baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.







Be First to Comment