Press "Enter" to skip to content

Minyak Tak Terkendali, Perang Asia Barat Seret Dunia ke Krisis Energi Baru

PROTIMES.CO – Dunia mulai merasakan getaran krisis energi baru saat konflik di Asia Barat terus memanas, menyeret Iran, Israel, dan Amerika Serikat ke dalam eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda.

Perang yang semula diprediksi hanya berlangsung singkat kini justru memasuki bulan kedua, membuka kemungkinan fase konflik berkepanjangan yang dampaknya mulai terasa hingga ke ekonomi global. Tekanan tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga merembet ke stabilitas politik dan energi dunia.

“Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya bukan lagi regional, tapi global,” demikian analis Geopolitik Mardigu.

Lalu lintas kapal di sekitar Selat Hormuz terlihat padat dalam pemantauan peta maritim, memperlihatkan jalur vital distribusi minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Iran disebut masih mampu bertahan dan bahkan mengubah strategi menjadi lebih presisi melalui serangan terarah, sementara opsi intervensi langsung oleh Amerika Serikat menjadi faktor penentu apakah perang akan meluas atau tidak.

Jika skenario pengiriman pasukan darat terjadi, konflik diperkirakan berubah menjadi perang jangka panjang. Iran dinilai memiliki kapasitas mempertahankan tekanan melalui serangan drone yang bisa berlangsung hingga bertahun-tahun.

Dampak paling terasa kini mulai menghantam sektor energi. Harga minyak dunia diproyeksikan berada di kisaran 105 hingga 115 dolar AS per barel dalam waktu dekat. Namun, jika konflik melewati tiga bulan, lonjakan bisa menembus 130 hingga 150 dolar AS per barel.

Ledakan besar terlihat di fasilitas industri saat malam hari, mempertegas eskalasi konflik yang berdampak pada sektor energi di kawasan.

Kondisi ini diperparah oleh rusaknya sekitar 30 hingga 40 persen infrastruktur energi di kawasan konflik. Proses pemulihan diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun, memperpanjang ketidakpastian pasokan global.

Tekanan juga terjadi di jalur vital Selat Hormuz yang menjadi nadi distribusi minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini berpotensi langsung memicu lonjakan harga energi global.

Bagi masyarakat, dampaknya bukan sekadar angka. Harga bahan bakar berpotensi melonjak signifikan, bahkan dalam skenario terburuk disebut bisa meningkat hingga dua kali lipat, memicu inflasi dan menekan daya beli.

Di tengah situasi ini, peta kekuatan ekonomi global mulai bergeser. Ketergantungan terhadap energi fosil diprediksi akan mempercepat peralihan ke kendaraan listrik, sektor yang saat ini didominasi oleh China.

Kondisi tersebut memunculkan kontras baru, ketika sebagian negara menghadapi tekanan energi dan inflasi, pihak lain justru berpotensi mendapatkan keuntungan dari perubahan arah ekonomi global.

Jika konflik terus berlanjut, dunia bukan hanya menghadapi perang, tetapi juga memasuki fase baru ketidakpastian energi yang berpotensi mengubah keseimbangan ekonomi global dalam jangka panjang.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *