Press "Enter" to skip to content

Indonesia Ketinggalan Vietnam: Ekonomi Vietnam Tumbuh Hampir 10%, RI Masih 5%

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95% pada Q3 2026, sementara data terbaru Indonesia masih 5,29%. Apa yang membuat Vietnam melaju lebih cepat?

PROTIMES.co — Performa ekonomi Vietnam kembali mencuri perhatian. Perekonomian negara tersebut tumbuh hampir 10 persen pada kuartal III 2026, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada data resmi terbaru masih berada di kisaran 5 persen.

Namun, perbandingan tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena periode data yang tersedia belum sama. Vietnam telah merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026, sedangkan Indonesia baru memiliki data resmi hingga kuartal II 2026.

Vietnam mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 9,95 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 8,15 persen pada kuartal I dan 8,81 persen pada kuartal II.

Secara kumulatif Januari–September 2026, ekonomi Vietnam tumbuh 9,01 persen. Data tersebut diumumkan National Statistics Office Vietnam pada awal Oktober.

Vietnam Tumbuh Hampir 10 Persen

Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal III didukung terutama oleh sektor industri dan konstruksi serta jasa.

Pada periode Januari–September 2026, sektor industri dan konstruksi Vietnam tumbuh 11,21 persen, sementara sektor jasa tumbuh 8,96 persen.

Aktivitas industri juga menunjukkan akselerasi. Indeks produksi industri pada kuartal III diperkirakan meningkat 14,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor perdagangan menjadi salah satu mesin penting pertumbuhan Vietnam. Total perdagangan barang Vietnam sepanjang Januari–September mencapai sekitar US$888,02 miliar, naik 30,4 persen secara tahunan.

Ekspor mencapai US$434,30 miliar atau tumbuh 24,5 persen, sedangkan impor mencapai US$453,72 miliar atau meningkat 36,7 persen.

Vietnam juga mencatat realisasi investasi asing langsung atau FDI sebesar US$21,07 miliar hingga September 2026. Angka tersebut meningkat 12,1 persen dan menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Indonesia Masih di Kisaran 5 Persen

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.

Angka tersebut turun dibandingkan pertumbuhan kuartal I yang mencapai 5,61 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, sementara sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mampu mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang oleh permintaan domestik, konsumsi, investasi dan ekspor.

Artinya, Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif dan relatif stabil, tetapi kecepatannya belum mendekati laju pertumbuhan Vietnam pada kuartal III.

Apa yang Membuat Vietnam Melaju?

Salah satu faktor penting adalah kuatnya sektor industri dan ekspor Vietnam.

Data pemerintah Vietnam menunjukkan ekspor Januari–September tumbuh 24,5 persen, sementara investasi asing langsung yang terealisasi mencapai US$21,07 miliar.

Vietnam juga menikmati peningkatan aktivitas manufaktur dan investasi yang terhubung dengan rantai pasok global. Permintaan ekspor menjadi salah satu penopang utama akselerasi ekonomi.

Reuters melaporkan pertumbuhan Vietnam yang hampir 10 persen juga didorong oleh kuatnya ekspor dan investasi infrastruktur. Namun, laju tersebut disertai sejumlah risiko, termasuk tekanan inflasi dan potensi overheating ekonomi.

Bukan Berarti Ekonomi Indonesia Stagnan

Perbedaan angka pertumbuhan Indonesia dan Vietnam tidak berarti ekonomi Indonesia sedang berhenti.

Indonesia memiliki struktur ekonomi yang berbeda. Perekonomian Indonesia relatif besar dan sangat ditopang pasar domestik, sementara Vietnam memiliki ketergantungan yang lebih kuat terhadap manufaktur berorientasi ekspor.

Pada kuartal II 2026, pertumbuhan Indonesia antara lain didukung konsumsi domestik, peningkatan konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor.

Bahkan, BPS mencatat ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar siapa yang tumbuh lebih tinggi, tetapi mengapa Vietnam mampu meningkatkan kecepatan pertumbuhannya jauh lebih agresif dan apa yang dapat dipelajari Indonesia.

Tantangan Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Lebih Tinggi

Perbandingan dengan Vietnam menjadi semakin relevan karena Indonesia tengah berupaya memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi masih perlu didorong agar momentum penguatan semakin kuat. Konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor menjadi sejumlah komponen yang perlu terus diperkuat.

Di sisi lain, ekonomi global masih menghadapi ketidakpastian, termasuk akibat gejolak harga energi, kebijakan perdagangan dan kondisi pasar keuangan internasional.

Karena itu, tantangan Indonesia bukan hanya mempertahankan pertumbuhan sekitar 5 persen, tetapi juga meningkatkan produktivitas, investasi, ekspor bernilai tambah dan kapasitas industri nasional.

Vietnam Sudah 9,95 Persen, Indonesia Menunggu Data Q3

Ada satu hal penting yang perlu ditunggu.

Vietnam sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 9,95 persen, sedangkan Indonesia belum merilis angka PDB kuartal III 2026.

Karena itu, perbandingan 9,95 persen Vietnam versus 5,29 persen Indonesia saat ini merupakan perbandingan antara data kuartal III Vietnam dan kuartal II Indonesia.

Angka pertumbuhan Indonesia kuartal III nantinya akan memberikan gambaran yang lebih apple-to-apple mengenai seberapa besar jarak pertumbuhan kedua negara.

Yang jelas, Vietnam saat ini menunjukkan akselerasi ekonomi yang sangat kuat. Sementara Indonesia tetap tumbuh positif di sekitar 5 persen dan masih memiliki ruang untuk memperkuat industri, investasi, ekspor dan konsumsi domestik.

Pertanyaannya kini bukan hanya mengapa Vietnam bisa tumbuh hampir 10 persen, tetapi juga apa yang harus dilakukan Indonesia agar pertumbuhan ekonomi dapat meningkat tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi makro.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *