Press "Enter" to skip to content

Enam Gunung Api Erupsi Berdekatan, Pakar UGM Ungkap Faktanya

Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi berdekatan pada akhir Agustus dan awal September 2026

PROTIMES Aktivitas vulkanik kembali menjadi perhatian setelah enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan, mulai akhir Agustus hingga awal September 2026.

Enam gunung api tersebut adalah Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Sinabung, Gunung Ibu, Gunung Ile Lewotolok, Gunung Anak Krakatau, dan Gunung Semeru.

Rangkaian aktivitas tersebut terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, kawasan Selat Sunda hingga Jawa Timur.

Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur mengalami erupsi pada 27 Agustus 2026 dan berada pada Level III atau Siaga.

Selanjutnya, Gunung Sinabung di Sumatera Utara mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026, juga dengan status Level III Siaga.

Sehari setelahnya, 1 September 2026, aktivitas erupsi terjadi di Gunung Ibu, Maluku Utara. Gunung tersebut berada pada Level II atau Waspada.

Aktivitas vulkanik kemudian terjadi di Gunung Ile Lewotolok, Nusa Tenggara Timur, pada 2 September 2026. Gunung tersebut tercatat mengalami 291 kali letusan yang disertai dentuman.

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda mengalami erupsi pada periode 4–6 September 2026 dengan status Level III Siaga.

Gunung Semeru di Jawa Timur juga mengalami erupsi pada 6 September 2026 dan berada pada status Level III Siaga.

Enam Gunung Erupsi Bersamaan, Apakah Saling Berkaitan?

Muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah erupsi yang terjadi hampir bersamaan tersebut memiliki hubungan satu sama lain?

Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Haryo Edi Wibowo, menjelaskan bahwa fenomena tersebut pada dasarnya merupakan hal yang wajar bagi Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia berada di kawasan Ring of Fire, dengan banyak gunung api aktif dan erupsi yang sering terjadi.

Namun, menurutnya, waktu erupsi yang berdekatan tidak otomatis berarti gunung-gunung tersebut saling memicu.

Kantong Magma Masing-Masing Gunung Berbeda

Haryo menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki sistem dan kantong magma masing-masing.

Kantong magma tersebut relatif independen dan berada pada sistem geologi yang berbeda. Selain itu, jarak antargunung api yang dapat mencapai ratusan kilometer membuat erupsi satu gunung tidak secara langsung memicu erupsi gunung lainnya.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menghubungkan rangkaian erupsi tersebut sebagai satu kejadian vulkanik yang saling memicu.

Meski demikian, aktivitas enam gunung api tersebut tetap menjadi pengingat penting bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api harus selalu mengikuti perkembangan informasi resmi.

Kewaspadaan, pemantauan aktivitas vulkanik, serta kepatuhan terhadap rekomendasi otoritas menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila aktivitas gunung api meningkat.

Rangkaian erupsi enam gunung api dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tingginya dinamika vulkanik Indonesia. Namun, berdasarkan penjelasan pakar, erupsi yang terjadi berdekatan tidak berarti keenam gunung tersebut saling berhubungan secara langsung.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *