Press "Enter" to skip to content

BI Soroti Arus Modal ke AS di Tengah Tekanan Global, Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti

PROTIMES.co — Tekanan ekonomi global, termasuk penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). Kondisi tersebut dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah, sementara perekonomian Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif.

BI menyebut harga minyak dunia mencapai US$125,53 per barel pada 24 September 2026, naik dari rata-rata sekitar US$90,8 per barel pada Agustus. Kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan biaya impor dan inflasi.

Penguatan dolar AS dan perpindahan dana investor ke aset yang dinilai lebih aman di negara maju, terutama Amerika Serikat. Perubahan arus modal tersebut dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Besarnya dampak terhadap Indonesia bergantung pada perkembangan pasar dan respons kebijakan.

Gubernur Bank Indonesia Destry DamayantiDi sisi domestik, data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Secara kumulatif, ekonomi semester I tumbuh 5,45 persen. BI memproyeksikan pertumbuhan sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen. BPS Bank Indonesia

Untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan, BI menyatakan memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Upaya yang disebut dalam ringkasan video termasuk penguatan likuiditas, insentif lindung nilai bagi investor asing, serta perluasan transaksi menggunakan mata uang lokal.

Kenaikan harga minyak dan arus modal global menjadi risiko yang perlu dicermati. Namun, angka pertumbuhan ekonomi yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih tumbuh di atas 5 persen pada semester pertama tahun ini.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *