PROTIMES.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah 230 siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program tersebut.
Para siswa berasal dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati. Mereka mengalami sejumlah keluhan seperti mual, muntah, mulas, diare hingga lemas dan harus mendapatkan penanganan medis.
Dari data yang dilaporkan, sebanyak 103 siswa SMPN 1 Gembong dan 127 siswa MTsN 3 Pati terdampak. Puluhan ambulans dikerahkan untuk membawa siswa ke puskesmas dan rumah sakit.
Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah fasilitas kesehatan kewalahan. Tiga rumah sakit di Pati dilaporkan mengalami overload setelah menerima pasien secara bergelombang.
Siswa Mulai Sakit Setelah Menyantap Menu MBG
Dugaan keracunan muncul setelah para siswa mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Selasa, 8 September 2026.
Menu yang dikonsumsi antara lain nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orak-arik tempe, lalapan, kerupuk udang dan semangka. Keluhan kesehatan mulai dirasakan sebagian siswa pada malam hari dan berlanjut hingga Rabu pagi.
Pihak sekolah juga menyebut makanan MBG datang lebih lambat dari jadwal biasanya. Namun, keterlambatan distribusi tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya keluhan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pati menegaskan bahwa data korban masih dinamis dan penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan.
Pemkab Pati Tetapkan Kejadian Luar Biasa
Besarnya jumlah siswa yang terdampak membuat Pemerintah Kabupaten Pati mengambil langkah lebih serius. Pada 10 September 2026, Pemkab Pati menetapkan kasus tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Penetapan KLB dilakukan untuk memastikan penanganan para korban dapat dilakukan secara maksimal, termasuk dukungan pembiayaan dalam kondisi darurat.
Kasus Pati kembali menyoroti pentingnya keamanan pangan, kualitas bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan serta ketepatan distribusi MBG.
Program MBG merupakan program nasional berskala besar. Karena menyangkut makanan yang dikonsumsi anak-anak, setiap dugaan keracunan harus ditangani secara transparan dan menyeluruh.
Pemerintah perlu memastikan penyebab kejadian di Pati benar-benar terungkap, bukan sekadar menghentikan persoalan setelah para siswa mendapatkan perawatan. Keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan MBG.
















Be First to Comment