Press "Enter" to skip to content

Felix Siauw: Hubungan AS-Israel Pecah Kongsi di Tengah Perang Iran, Ini Pemicunya

Hubungan AS dan Israel dilaporkan retak secara terbuka. Analis geopolitik Ustaz Felix Siauw ungkap kegagalan operasi militer di Iran jadi pemicu utama. Baca selengkapnya.

PROTIMES.CO – Hubungan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang selama ini dikenal kokoh tanpa syarat, kini dilaporkan mengalami keretakan mendalam. Analis geopolitik sekaligus mubaligh, Ustaz Felix Siauw, menyebut fenomena perselisihan terbuka ini sebagai sebuah “gempa geopolitik” (geopolitical tectonic shift) terbesar dalam sejarah modern kedua negara.

Menurutnya, ketegangan ini dipicu oleh kegagalan operasi militer gabungan di Iran serta tindakan sepihak Israel yang dinilai mengacaukan strategi perdamaian yang tengah disusun oleh Washington.

Kronologi Keretakan Hubungan AS dan Israel

Pecahnya keharmonisan kedua negara mulai terendus ke publik pasca-pernyataan terbuka Presiden AS Donald Trump dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pada 16 Juni 2026.

Ustads Felix Siauw.

“Anda tidak perlu meruntuhkan sebuah gedung apartemen setiap kali Anda mencari seseorang. Saya tidak senang dengan cara Israel menangani diri mereka sendiri di Lebanon,” ujar Donald Trump dalam kutipan yang dibacakan Felix Siauw melalui kanal YouTube pribadinya, dikutip Protimes.co, Sabtu (27/6/2026).

Kritik tajam ini menjadi tidak biasa karena AS selama ini selalu pasang badan terhadap seluruh aktivitas militer Israel, baik di Gaza maupun di wilayah Timur Tengah lainnya.

Kegagalan Operasi ‘Epic Fury’ di Iran Jadi Pemicu Utama

Berdasarkan analisis Felix Siauw, akar konflik internal ini bermula dari operasi militer gabungan berskala besar antara militer AS dan intelijen Israel yang bertajuk Operation Epic Fury. Operasi yang ditargetkan untuk melumpuhkan Iran tersebut justru berakhir buntu (epic fail).

Ketidakmampuan menembus pertahanan Iran memaksa pemerintahan Trump mencari jalan keluar (exit strategy) guna menyelamatkan muka di panggung internasional. AS bahkan dilaporkan harus menanggung biaya kompensasi ekonomi yang sangat besar demi dibukanya kembali Selat Hormuz, tanpa berhasil menekan komitmen nuklir Iran sebagaimana tujuan awal operasi.

Namun, di saat AS tengah bernegosiasi untuk meredakan tensi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru meluncurkan serangan baru ke wilayah Lebanon guna memburu kelompok Hizbullah. Langkah sepihak inilah yang dinilai merusak exit strategy Pentagon dan memicu kemarahan elite global di Washington.

Pergeseran Masif Opini Publik di Dalam Negeri AS

Selain faktor kegagalan militer, tekanan domestik di Amerika Serikat turut memaksa Gedung Putih untuk mulai menjaga jarak dari Tel Aviv. Mengutip data survei terbaru tahun 2026 dari lembaga riset global Gallup dan Pew Research, Felix membeberkan fakta mencengangkan:

  • Penurunan Dukungan: Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dukungan publik AS terhadap Israel merosot tajam. Sebanyak 41% warga AS kini berpihak pada Palestina, sementara pendukung Israel menyusut hingga 36%.
  • Ketidakpuasan Publik: Sebanyak 60% orang dewasa di AS menyatakan tidak menyukai kebijakan Israel saat ini. Angka ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan PM Benjamin Netanyahu bahkan menembus 70%.
  • Peran Generasi Muda: Motor penggerak perubahan opini publik ini didominasi oleh Gen Z (mencapai 70%) yang menolak uang pajak mereka digunakan untuk mendanai operasional militer dan pemboman fasilitas sipil.

Titik Balik Geopolitik yang Tidak Bisa Kembali (Irreversible)

Menutup analisisnya, Felix Siauw menegaskan bahwa runtuhnya narasi benteng pertahanan terkuat Barat di Timur Tengah merupakan fase awal tersingkapnya fakta realitas di lapangan (liyasuu wujuuhakum).

“Mungkin posisi kita (pembela Palestina) saat ini secara struktural masih di bawah, tetapi pergerakannya terus naik dan sifatnya irreversible (tidak bisa kembali). Sebaliknya, posisi mereka di atas, tetapi pergerakan mereka turun drastis. Ini adalah turning point yang harus terus dikawal dengan menyuarakan kebenaran di ruang publik,” pungkasnya.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *