PROTIMES.CO – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kontrak impor minyak antara Indonesia dan Rusia telah resmi berjalan, di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas energi nasional serta meningkatkan penerimaan negara dari sektor pertambangan dan gas.
Kontrak Impor Minyak Rusia Sudah Dieksekusi
Bahlil mengungkapkan bahwa kesepakatan impor minyak merupakan tindak lanjut dari kerja sama Government-to-Government (G2G) antara Presiden Indonesia dan Presiden Rusia. Ia menegaskan bahwa kontrak telah dilakukan melalui Lemigas sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian ESDM.
Meski demikian, terkait waktu kedatangan minyak ke dalam negeri, pihaknya masih melakukan pengecekan teknis lebih lanjut. Pemerintah memastikan seluruh proses berjalan sesuai mekanisme dan kebutuhan energi nasional.
“Kontrak sudah dilakukan oleh Lemigas. Untuk teknis kedatangan, masih kami cek lebih detail,” ujar Bahlil.
Lonjakan Penerimaan Negara dari Royalti Minerba
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menyoroti peningkatan penerimaan negara dari sektor mineral dan batu bara (minerba). Ia menyebut potensi tambahan penerimaan mencapai Rp30 triliun hingga Rp35 triliun.
Kenaikan tersebut bukan berasal dari kebijakan baru, melainkan hasil dari penyesuaian royalti yang telah dilakukan sebelumnya terhadap sejumlah komoditas strategis seperti nikel dan batu bara.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari optimalisasi sumber daya alam agar memberikan kontribusi maksimal bagi negara tanpa membebani industri secara berlebihan.
Harga Gas Industri Naik, Pemerintah Cari Solusi
Terkait keluhan pelaku industri mengenai kenaikan harga gas, Bahlil menjelaskan bahwa secara nasional pasokan gas masih dalam kondisi aman. Namun, penurunan produksi di sejumlah sumur gas, khususnya di wilayah Jawa Barat, menyebabkan perubahan skema distribusi.
Untuk menutupi kekurangan pasokan, pemerintah mengandalkan Liquefied Natural Gas (LNG) dari wilayah Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Penggunaan LNG ini berdampak pada peningkatan biaya logistik yang akhirnya memengaruhi harga gas industri, terutama bagi sektor non-HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu).
“Karena harus pakai LNG dari luar wilayah, ada tambahan biaya. Ini yang sedang kami formulasikan agar tidak memberatkan industri,” jelasnya.
Rapat Teknis Cari Harga Ideal
Saat ini, Kementerian ESDM bersama Pertamina tengah menggelar rapat teknis untuk merumuskan skema harga gas yang ideal. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri dan efisiensi biaya energi.
Bahlil menegaskan, kebijakan yang diambil nantinya diharapkan mampu menjaga daya saing industri nasional di tengah tekanan biaya energi global.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga, dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi dan keberlangsungan sektor industri.







Be First to Comment