PROTIMES.CO – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tidak hanya bermain di pasar lokal, tetapi mulai menembus pasar global melalui jalur ekspor. Langkah agresif itu kembali ditegaskan Mendag yang akrab disapa Busan saat menghadiri forum diskusi bertajuk “NGOPI: Ngobrol Produk Indonesia” di Jakarta, Rabu (13/5).
Forum hasil kolaborasi Kementerian Perdagangan bersama Local Champion Indonesia tersebut menjadi ruang pertemuan antara pelaku UMKM, eksportir muda, agregator, hingga pemerintah untuk membedah peluang besar produk Indonesia di pasar internasional. Dalam forum itu, Mendag Busan menyoroti masih banyak pelaku UMKM yang sebenarnya memiliki produk berkualitas, namun belum memahami jalur ekspor dan strategi memasuki pasar luar negeri.
“Banyak produk UMKM kita sebenarnya sangat layak ekspor. Kendalanya bukan kualitas, tapi akses dan pemahaman pasar. Karena itu Kemendag hadir untuk mendampingi,” ujar Mendag Busan dalam diskusi tersebut.

Program BISA Ekspor Jadi Senjata Baru UMKM
Kemendag kini menggenjot program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor sebagai kendaraan utama membuka akses pasar global bagi produk-produk lokal. Melalui program tersebut, pelaku usaha dipertemukan langsung dengan calon buyer luar negeri melalui pitching dan business matching secara virtual.
Kemendag juga mengoptimalkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara sebagai ujung tombak promosi produk Indonesia. Program ini menjadi bagian dari gerakan besar bertajuk “Dari Lokal untuk Global” yang kini mulai masif dijalankan pemerintah.
“Setelah UMKM menentukan pasar tujuan, kami hubungkan dengan perwakilan perdagangan RI di negara tersebut. Dari situ akan dicari buyer potensial hingga proses presentasi bisnis,” kata Mendag Busan.
Selain membuka akses buyer internasional, Kemendag juga menyediakan layanan pengembangan desain produk melalui Indonesia Design Development Center (IDDC) untuk meningkatkan daya saing produk UMKM Indonesia. Ada pula program Product Placement Pilihan Busan, yakni penempatan produk unggulan UMKM di ruang tamu Menteri Perdagangan sebagai media promosi kepada delegasi dan tamu asing.
Keluhan Logistik hingga Regulasi Jadi Sorotan
Dalam diskusi tersebut, para pelaku usaha juga menyampaikan sejumlah persoalan klasik yang masih menjadi hambatan ekspor, mulai dari biaya logistik, penguatan platform digital, hingga penyederhanaan regulasi ekspor untuk produk tertentu.
Mendag Busan memastikan pemerintah membuka ruang masukan dari pelaku usaha demi memperkuat kebijakan perdagangan nasional yang lebih adaptif dan berpihak kepada UMKM.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan pemanfaatan teknologi menjadi kunci penting agar UMKM mampu bersaing secara global. Untuk mendukung hal itu, Kemendag menghadirkan platform Inaexport sebagai layanan terpadu pencarian buyer dan informasi pasar internasional.
“Inaexport menjadi one-stop service bagi eksportir dan buyer dunia. Di sana ada katalog produk, profil buyer, hingga informasi pasar dari perwakilan perdagangan RI,” ujar Puntodewi.
Founder Local Champion Indonesia, Dhika Yudistira mengatakan forum “NGOPI” lahir dari semangat sederhana untuk mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha dalam satu ruang diskusi terbuka demi memperkuat ekosistem UMKM nasional.
Salah satu peserta forum, Abdullah, pelaku UMKM batik asal Solo, mengaku mulai memahami mekanisme ekspor setelah mengikuti diskusi tersebut. Ia optimistis produknya mampu bersaing di pasar luar negeri jika mendapat pendampingan yang tepat.
“Kami sebenarnya siap produksi. Yang selama ini jadi kendala memang tata cara ekspor dan akses pasarnya,” ujar Abdullah.







Be First to Comment