Press "Enter" to skip to content

Bekingan Judol Hayam Wuruk Mulai Disorot, PPATK Bidik Pengendali Besar di Balik 321 WNA

PPATK dan pakar siber soroti dugaan bekingan di balik sindikat judol internasional Hayam Wuruk Jakarta Barat.

PROTIMES.CO – Kasus penggerebekan markas judol internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, mulai mengarah pada dugaan keterlibatan aktor besar dan jaringan pelindung di balik operasional ratusan warga negara asing yang beraktivitas selama dua bulan di Indonesia.

Analisis terbaru dari pakar siber dan mantan pimpinan PPATK Yunus Husein, menyebutkan para pekerja yang ditangkap kemungkinan hanya operator lapangan, sementara pengendali utama diduga berada di luar negeri.

Dalam operasi sebelumnya, aparat mengamankan 320 WNA dan 1 WNI dari sebuah gedung yang diduga menjadi pusat aktivitas perjudian online lintas negara. Kini fokus penyelidikan mulai mengarah pada aliran dana, transaksi kripto, hingga kemungkinan adanya “bekingan” yang membantu kelancaran operasional sindikat tersebut di Jakarta.

PPATK Bisa Bongkar Pengendali Utama

Mantan Kepala PPATK Yunus Husein menjelaskan pengungkapan beneficial owner atau pengendali utama jaringan judi online dapat dilakukan melalui analisis transaksi keuangan dan remitansi digital seperti Dana maupun OVO. Menurutnya, pola transaksi dengan frekuensi tinggi dan volume besar menjadi indikator kuat untuk mengidentifikasi pihak yang mengendalikan operasional. “Dengan menganalisis transaksi, bisa ketahuan siapa beneficial owner atau pengendalinya. Kalau frekuensinya tinggi dan banyak menerima transaksi, kemungkinan besar dia pengendalinya,” ujar Yunus. Ia juga menegaskan PPATK memiliki kewenangan melakukan audit langsung terhadap lembaga jasa keuangan hingga menelusuri transfer lintas negara melalui jaringan perbankan internasional. Penelusuran ini dinilai menjadi pintu utama untuk membongkar siapa sosok besar di balik sindikat judol yang disebut menggunakan skema transaksi modern berbasis kripto.

Dugaan Bekingan dan Human Trafficking Muncul

Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Suteja menilai sebagian besar WNA yang ditangkap kemungkinan hanyalah pekerja kasar atau frontliner yang ditempatkan untuk menjalankan operasi harian.

Ia bahkan menduga ada indikasi praktik perdagangan orang dalam perekrutan operator sindikat tersebut.

“Sasaran mereka bukan Indonesia karena tidak bisa bahasa Indonesia, tapi sasaran ada di luar negeri. Ini artinya bos besarnya mungkin tidak ada di Indonesia,” kata Ardi.

Ia juga mengingatkan bahwa jaringan ini merupakan evolusi terbaru sindikat judi online Asia Tenggara yang sebelumnya beroperasi di Kamboja dan Myanmar. Dalam analisisnya, sindikat modern kini menggunakan kripto dan teknik penyamaran identitas yang membuat proses forensik digital menjadi lebih rumit.

Sementara itu, Yunus Husein menyoroti kemungkinan adanya bantuan pihak dalam negeri terkait izin masuk, izin bekerja, hingga kelancaran operasional para pelaku selama berada di Jakarta.

“Tidak ada bisnis yang murni 100 persen tanpa bantuan penguasa atau backing,” tegasnya.

Polisi kini terus mendalami kemungkinan keterlibatan sponsor lokal serta jalur perlindungan yang membuat sindikat internasional tersebut dapat beroperasi relatif bebas di Indonesia.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *