PROTIMES.co — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai mempercepat penataan struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Restrukturisasi dilakukan melalui sejumlah skema, mulai dari merger, konsolidasi, hingga penutupan perusahaan yang dinilai tidak lagi efektif.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengatakan proses tersebut dilakukan secara bertahap dengan tujuan membentuk struktur BUMN yang lebih sederhana, efektif, dan efisien.
Dalam rencana jangka panjang tersebut, jumlah perusahaan BUMN dan entitas terkait yang saat ini mencapai lebih dari seribu perusahaan akan dirampingkan hingga tersisa sekitar 200 perusahaan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Danantara membangun struktur perusahaan negara yang lebih terkonsolidasi sehingga pengelolaan aset dan bisnis dapat dilakukan secara lebih terarah.
Merger BUMN Karya Jadi Prioritas Awal
Dony mengatakan salah satu proses yang kini diprioritaskan adalah konsolidasi BUMN sektor konstruksi atau BUMN Karya.
Empat perusahaan yang menjadi tahap awal adalah PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya.

Menurut Dony, keempat perusahaan tersebut dipilih karena proses penggabungannya relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan sejumlah BUMN Karya lainnya.
“Merger PTPP, Adhi Karya, kemudian Brantas Abipraya dan Nindya Karya ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan merger-nya, sehingga kita mulai melakukan merger ini dulu,” ujar Dony seusai acara Executive Breakfast Meeting IKA Fikom Unpad di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Setelah tahap awal tersebut, restrukturisasi akan dilanjutkan terhadap BUMN Karya lainnya, termasuk PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).
Namun, kedua perusahaan tersebut membutuhkan penanganan yang lebih kompleks. Danantara perlu melakukan restrukturisasi aset, investasi, serta upaya penurunan utang sebelum proses merger dapat dilanjutkan.
Sementara itu, PT Hutama Karya (Persero) disebut berada dalam kondisi yang relatif lebih sehat dibandingkan WIKA dan Waskita dalam konteks restrukturisasi BUMN Karya.
Konsolidasi Tidak Hanya Menyasar Sektor Konstruksi
Penataan juga dilakukan pada sektor lainnya. Danantara sebelumnya menyampaikan bahwa restrukturisasi dilakukan secara sistematis, termasuk dengan memastikan terlebih dahulu jumlah dan struktur perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN.
Dony menjelaskan bahwa pendataan perusahaan menjadi salah satu tahap penting karena jumlah perusahaan dalam ekosistem BUMN sebelumnya mengalami perubahan dalam berbagai perhitungan. Dilaporkan angka yang pernah muncul berada pada rentang 888 hingga lebih dari 1.000 perusahaan sebelum dilakukan pembenahan data.
Selain sektor konstruksi, proses konsolidasi juga menyentuh sektor asuransi. Penggabungan perusahaan asuransi dan asuransi syariah mencakup lini seperti life insurance, general insurance, dan credit insurance.
Dengan restrukturisasi tersebut, Danantara menargetkan terbentuknya jumlah perusahaan yang lebih ramping dengan skala usaha yang lebih besar dan struktur pengelolaan yang lebih sederhana.
Target akhirnya adalah menyisakan sekitar 200 entitas perusahaan yang dinilai lebih efektif dan efisien.
Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi BUMN tidak hanya diarahkan pada penggabungan perusahaan, tetapi juga pada penataan aset, keuangan, investasi, dan tata kelola perusahaan negara secara bertahap.







Be First to Comment