Press "Enter" to skip to content

Minyak Dunia Tembus US$100, Harga Pertamax Jadi Sorotan

Harga minyak dunia tembus US$100 per barel dan berpotensi memberi tekanan terhadap harga Pertamax di Indonesia.

PROTIMES.co — Harga minyak mentah dunia kembali melonjak menembus level US$100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini mulai menjadi perhatian karena berpotensi memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax.

Harga Brent bahkan sempat menetap di atas US$100 per barel seiring meningkatnya gangguan terhadap lalu lintas energi di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz. Pada perdagangan Kamis (10/9), Brent ditutup di sekitar US$107,63 per barel, sementara WTI berada di atas US$102 per barel.

Kenaikan harga minyak global tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap biaya energi, transportasi hingga logistik. Jika berlangsung dalam waktu lama, tekanan tersebut berpotensi merembet ke harga barang dan biaya distribusi di dalam negeri.

Pertamax Berpotensi Rp18 Ribu-Rp20 Ribu

Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan kondisi geopolitik saat ini menjadi salah satu tantangan berat bagi sektor energi.

Menurutnya, belum terlihat indikasi penurunan harga minyak dunia secara signifikan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, harga BBM nonsubsidi berpotensi ikut terdampak.

“Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” ujar Eko dalam acara media gathering di Yogyakarta, Jumat (11/9).

Eko juga berharap konflik geopolitik di Timur Tengah segera mereda sehingga tekanan terhadap harga minyak global dapat berkurang.

“Kita berharap semoga itu (meredanya konflik Timur Tengah) bisa terjadi segera. Kalau tidak, kondisinya akan berdampak seperti sekarang,” kata Eko.

Pertamina menilai kondisi perang antara Amerika Serikat dan Iran saat ini memberikan tekanan yang lebih berat terhadap pasar energi dibandingkan krisis yang terjadi ketika perang Rusia-Ukraina.

Pemerintah Siapkan Bantalan APBN

Tekanan harga minyak juga menjadi perhatian pemerintah karena Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan BBM. Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya impor sekaligus memberikan tekanan terhadap anggaran negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan pemerintah telah memperhitungkan risiko kenaikan harga minyak. Ia memastikan anggaran subsidi masih mencukupi dan pemerintah memiliki ruang untuk menghadapi gejolak harga energi.

Sementara itu, Kementerian ESDM mencatat Indonesian Crude Price (ICP) Agustus 2026 naik menjadi US$89,43 per barel dari US$81,68 per barel pada Juli. Pemerintah menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi risiko geopolitik serta potensi gangguan pasokan di jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.

Wakil Menteri ESDM Yuliot sebelumnya menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar minyak dunia. Formula harga juga memperhitungkan biaya pokok penyediaan dan margin.

Kondisi ini membuat perkembangan harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan menjadi sangat penting. Jika konflik mereda dan pasokan energi kembali normal, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi dapat berkurang. Sebaliknya, apabila harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, tekanan terhadap biaya energi dan perekonomian nasional berpotensi semakin besar.

Bagi masyarakat, perkembangan tersebut menjadi sinyal untuk mencermati kemungkinan perubahan biaya transportasi, logistik dan harga barang apabila tekanan harga minyak global berlangsung berkepanjangan.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *