Press "Enter" to skip to content

PRABOWO MAIN DUA POROS, INDONESIA DIUNTUNGKAN ATAU MASUK PUSARAN KUASA GLOBAL?

Strategi diplomasi Prabowo ke Rusia dan Prancis dinilai cerdas namun berisiko. Indonesia diuntungkan atau justru masuk pusaran geopolitik global?

PROTIMES.CO – Langkah Prabowo Subianto yang aktif menjalin komunikasi dengan dua kekuatan dunia, yakni Vladimir Putin dari Rusia dan Emmanuel Macron dari Prancis, mulai dibaca sebagai manuver besar dalam peta geopolitik global. Di satu sisi, ini terlihat sebagai strategi cerdas menjaga keseimbangan. Namun di sisi lain, ada risiko tersembunyi yang tidak bisa diabaikan.

Pertemuan dengan Rusia menegaskan arah kerja sama di sektor pertahanan, termasuk peluang penguatan alutsista dan transfer teknologi. Rusia selama ini dikenal sebagai pemasok sistem militer yang tidak terlalu mengikat secara politik, sehingga memberi ruang manuver lebih luas bagi Indonesia. Namun, hubungan ini tidak lepas dari bayang-bayang konflik global dan tekanan Barat terhadap Moskow.

Satu meja, dua kepentingan. Indonesia membaca arah kekuatan global.

Di saat yang sama, kedekatan dengan Prancis membuka jalur berbeda. Kesepakatan pembelian jet tempur Rafale dan kerja sama industri pertahanan memperlihatkan upaya modernisasi militer berbasis teknologi Barat. Prancis tidak hanya menjual alat, tetapi juga membawa paket investasi, teknologi, dan akses ke jaringan pertahanan Eropa.

Strategi dua arah ini mencerminkan posisi Indonesia yang ingin tetap berada di jalur non-blok, namun dengan pendekatan yang lebih aktif dan pragmatis. Indonesia tidak lagi sekadar menjaga jarak, tetapi mulai memainkan peran sebagai negara yang bisa bernegosiasi dengan semua pihak.

Tenang tapi penuh arah. Diplomasi kelas dunia sedang dimainkan.

Namun, di balik peluang tersebut, ada potensi tekanan yang mengintai. Ketika hubungan dengan Rusia diperkuat, risiko sanksi atau tekanan diplomatik dari negara Barat bisa meningkat. Sebaliknya, ketika terlalu dekat dengan Eropa, Indonesia bisa kehilangan fleksibilitas dalam menjalin hubungan dengan blok Timur.

Dalam konteks global yang semakin terpolarisasi, strategi ini ibarat berjalan di atas garis tipis. Kesalahan membaca momentum bisa membuat Indonesia terseret ke dalam kepentingan kekuatan besar, bukan lagi sebagai pemain independen.

Meski begitu, jika dikelola dengan presisi tinggi, langkah ini justru bisa menjadi peluang emas. Indonesia dapat memanfaatkan rivalitas global untuk mendapatkan keuntungan maksimal, baik dari sisi teknologi, investasi, maupun posisi tawar internasional.

Kunci utamanya ada pada konsistensi kebijakan luar negeri dan kemampuan menjaga keseimbangan. Jika berhasil, Indonesia bukan hanya bertahan di tengah tarik-menarik kekuatan global, tetapi justru naik kelas sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *