Press "Enter" to skip to content

RAFale Disorot Lagi di Pertemuan Prabowo–Macron, Sinyal Tambah Jet Tempur Indonesia Menguat?

Prabowo dan Macron bahas pengadaan Rafale dan kerja sama pertahanan, namun belum ada kepastian tambahan pembelian jet tempur Indonesia.

PROTIMES.CO – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris bukan sekadar agenda diplomasi rutin, tetapi langsung mengarah pada satu isu yang menyita perhatian, masa depan Rafale dalam kekuatan militer Indonesia. Di tengah pembahasan berbagai sektor strategis, sinyal terkait kemungkinan penambahan jet tempur kembali mengemuka.

Melalui pernyataan resminya, Prabowo mengungkap bahwa pembicaraan mencakup pengadaan militer hingga penguatan industri pertahanan, selain kerja sama di bidang energi transisi, infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

“Kami membahas berbagai sektor strategis, termasuk penguatan kerja sama pertahanan,” demikian disampaikan dalam unggahan resmi, yang memperlihatkan arah hubungan bilateral semakin dalam.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam suasana resmi di Paris, Prancis.

Namun di balik itu, perhatian publik justru terkunci pada satu pertanyaan apakah Indonesia akan menambah pembelian Rafale? Hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi langkah tersebut, tetapi pola pertemuan dan intensitas komunikasi antara kedua negara memunculkan indikasi kuat bahwa opsi itu tetap terbuka.

Indonesia sebelumnya telah menandatangani kontrak besar senilai USD 8,1 miliar untuk 42 unit Rafale pada 2022. Pengiriman jet tempur ini dilakukan bertahap, dengan tiga unit pertama telah tiba pada 2025, sementara pengiriman berikutnya dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026. Paket kerja sama tersebut juga mencakup pelatihan pilot, dukungan logistik pangkalan udara, serta pembangunan pusat pelatihan lengkap dengan simulator misi.

Di titik ini, arah kebijakan pertahanan Indonesia mulai terlihat lebih tegas. Tidak hanya memperkuat kekuatan udara, kerja sama dengan Prancis juga merambah sektor maritim melalui kolaborasi PT PAL Indonesia dalam pengadaan kapal selam Scorpène, sekaligus membuka peluang pengembangan fregat ringan. Ini menandakan bahwa hubungan kedua negara tidak lagi sebatas transaksi, tetapi mulai masuk ke level alih teknologi dan penguatan industri dalam negeri.

Menariknya, setiap pertemuan Prabowo dan Macron hampir selalu diikuti ekspektasi pasar pertahanan global terkait potensi tambahan kontrak. Dalam kunjungan Macron ke Jakarta pada Mei 2025, bahkan sempat disampaikan bahwa kerja sama tersebut dapat membuka peluang pemesanan baru, tidak hanya Rafale tetapi juga sistem pertahanan lainnya.

Di sisi lain, Indonesia juga menunjukkan kesiapan dari sisi anggaran. Pemerintah menetapkan belanja pertahanan sekitar Rp 337 triliun untuk 2026, mencerminkan strategi besar dalam modernisasi militer secara bertahap namun konsisten.

Pada fase ini, keputusan soal tambahan Rafale memang belum diumumkan. Namun arah pembicaraan, kekuatan anggaran, serta kedalaman kerja sama yang terus berkembang menjadi sinyal kuat bahwa langkah tersebut bukan sekadar kemungkinan, melainkan bagian dari skenario yang sedang disiapkan.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *