PROTIMES.co – Sebuah speedboat yang membawa delapan orang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten. Kapal tersebut sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang sedang mengalami erupsi.
Delapan orang yang berada di dalam speedboat terdiri dari lima jurnalis, dua kru kapal, dan satu pemandu wisata.
Lima jurnalis tersebut yakni Yudistiro Pranoto dari iNews, Muhammad Bagus Khoirunas dari LKBN Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Firdaus dari Anadolu Agency, serta Donal, jurnalis freelance.
Sementara tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Herianto sebagai pemandu wisata.
Kontak Terakhir Sebelum Kapal Hilang
Rombongan diketahui berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.
Sekitar pukul 14.42 WIB, salah satu jurnalis masih sempat memberikan informasi mengenai lokasi terakhir kepada rekannya di Lampung.
Komunikasi masih berlangsung hingga sore hari. Sekitar pukul 18.13 WIB, Herianto bahkan sempat mengirimkan foto kondisi Gunung Anak Krakatau dari jarak aman kepada istrinya.
Namun setelah komunikasi terakhir tersebut, seluruh kontak dengan rombongan terputus. Kapal kemudian dinyatakan hilang kontak ketika diperkirakan sedang dalam perjalanan kembali menuju Carita.
Hilangnya kapal menjadi perhatian serius karena perairan sekitar Anak Krakatau sedang menghadapi aktivitas vulkanik dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
137 Personel Dikerahkan, Drone Termal Disiapkan
Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian dengan mengerahkan sekitar 137 personel. Sejumlah armada turut dilibatkan, di antaranya KN SAR Tetuka, RIP 02, kapal KAL TNI AL, serta unsur Basarnas dari Banten dan Lampung.
Pencarian difokuskan di sepanjang rute perjalanan dari Dermaga Carita menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, Pulau Sebesi, hingga sejumlah pulau kecil yang diduga dapat menjadi lokasi kapal berlindung atau bersandar.
Kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri. Tim SAR menghadapi angin sekitar 10 knot, gelombang setinggi 1–2 meter, jarak pandang terbatas pada malam hari, serta risiko paparan abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau.
Pencarian melalui udara menggunakan helikopter juga menghadapi risiko akibat sebaran abu vulkanik. Sebagai alternatif, tim SAR menyiapkan dua unit drone termal dari KN SAR Tetuka untuk membantu mendeteksi keberadaan korban atau kapal dari udara.
Hingga pencarian berlangsung, tim gabungan terus menyisir wilayah perairan Selat Sunda dan berharap delapan orang yang berada di dalam speedboat segera ditemukan dalam kondisi selamat.












Be First to Comment