PROTIMES.CO – Dunia berada di titik paling genting setelah Iran meningkatkan status kesiapan perang di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat. Di saat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menggelar latihan militer besar-besaran dan ancaman perang regional makin terbuka, Presiden AS Donald Trump justru bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing dalam KTT yang disebut-sebut sebagai penentu arah geopolitik global.
Latihan perang Iran bertajuk “Panglima Martir” berlangsung selama lima hari di sekitar Teheran dengan simulasi menghadapi serangan Amerika Serikat dan Israel. Situasi semakin panas setelah Pentagon dilaporkan menyiapkan operasi militer baru bernama “Sledge Hammer” atau Palu Godam sebagai lanjutan operasi sebelumnya yang dianggap belum berhasil menekan Teheran.
Ketegangan juga menjalar ke Selat Hormuz, jalur minyak paling vital di dunia yang kini berada dalam tekanan besar akibat konflik berkepanjangan. Harga minyak global mulai bergerak naik karena pasar internasional khawatir jalur distribusi energi lumpuh total jika perang meluas.

Trump-Xi Jadi Sorotan di Tengah Ancaman Perang
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing langsung menjadi perhatian dunia internasional karena berlangsung di tengah konflik Iran yang terus memburuk. Dalam agenda tertutup kedua pemimpin, isu perang Iran disebut menjadi salah satu topik utama selain perang dagang, Taiwan, dan persaingan teknologi global.
Trump datang ke Beijing dengan tekanan politik yang besar dari dalam negeri akibat biaya perang melawan Iran yang membengkak hingga hampir USD29 miliar. Pemerintah AS bahkan mengajukan anggaran pertahanan fantastis mencapai USD1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027 sebagai sinyal Washington sedang bersiap menghadapi konflik jangka panjang.
Meski bertemu Xi Jinping, Trump tetap menunjukkan sikap keras terhadap Iran. Ia menegaskan Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan mengklaim kekuatan laut serta udara Iran telah melemah akibat operasi militer beberapa bulan terakhir.
Namun, laporan intelijen AS justru menyebut Iran masih memiliki sebagian besar kekuatan rudal dan kemampuan bertahan menghadapi blokade Amerika Serikat selama berbulan-bulan. Bahkan, Iran dikabarkan telah menyiapkan sekitar 30 pangkalan peluncur rudal di sekitar Selat Hormuz untuk menghadapi kemungkinan perang total.
China Masuk Pusaran Konflik Global
Posisi China dalam konflik Iran menjadi sorotan besar karena Beijing diketahui memiliki hubungan ekonomi dan strategis yang kuat dengan Teheran. Pemerintah Iran bahkan secara terbuka menyatakan bahwa China memahami bahwa perang yang terjadi merupakan dampak dari unilateralisme Amerika Serikat.
Xi Jinping dalam pertemuan dengan Trump sebelumnya menyerukan agar China dan Amerika Serikat menjadi mitra, bukan rival, demi menjaga stabilitas dunia. Namun, konflik Iran membuat hubungan dua negara itu kembali diuji di tengah ancaman perang kawasan yang bisa mengguncang ekonomi global.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi mulai melakukan operasi militer rahasia terhadap target yang berhubungan dengan Iran sebagai balasan atas serangan drone dan rudal ke wilayah kerajaan. Jika eskalasi terus meningkat, konflik Timur Tengah dikhawatirkan berubah menjadi perang regional berskala besar yang melibatkan lebih banyak negara.







Be First to Comment