PROTIMES.CO— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyaris mencapai level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026), namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis mata uang nasional akan segera berbalik menguat. Data pasar menunjukkan rupiah ditutup pada posisi sekitar Rp16.955 per dolar AS, mencerminkan tekanan nilai tukar namun masih dalam batas dasar yang bisa dikelola pemerintah.
Purbaya dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, menyatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah sangat bergantung pada fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyoroti bahwa kinerja pasar modal domestik merupakan salah satu indikator daya tarik aset Indonesia, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak level tertinggi baru atau All Time High (ATH) di kisaran angka 9.133,87 pada hari yang sama.
Menurut Purbaya, penguatan IHSG menunjukkan adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar modal Indonesia, sehingga potensi suplai dolar AS di pasar meningkat dan berkontribusi pada peluang menguatnya rupiah dalam waktu dekat. Pernyataan optimistis tersebut muncul meskipun sejumlah faktor global dan sentimen risiko tetap memberi tekanan pada nilai tukar, termasuk dinamika pasar keuangan internasional yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang.
Purbaya juga menanggapi kekhawatiran pasar terkait wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ia menegaskan bahwa penunjukan tersebut tidak akan mengurangi independensi Bank Indonesia, sehingga tidak berdampak negatif pada kebijakan moneter atau stabilitas nilai tukar.
Meski hampir menyentuh level Rp17.000, Purbaya memastikan bahwa kondisi ini masih bersifat sementara dan dapat diperbaiki melalui perbaikan fundamental serta interaksi pasar yang dinamis. Pemerintah akan tetap menjaga fondasi ekonomi dan mendorong pertumbuhan untuk memperkuat kepercayaan investor serta stabilitas nilai tukar nasional.
Pengamat pasar mata uang mencatat bahwa selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen global dan kebijakan suku bunga Federal Reserve AS yang diproyeksikan dapat mendorong volatilitas kurs mata uang di pasar dunia. Namun, optimisme atas prospek penguatan rupiah tetap menjadi dasar pernyataan pemerintah dalam menghadapi tekanan nilai tukar tersebut.
Editor: Reza







Be First to Comment