PROTIMES.CO – Prediksi pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp22.000 per dolar AS pada pertengahan 2026 memicu perdebatan dalam diskusi publik mengenai kondisi ekonomi nasional. Sejumlah ekonom mengingatkan pentingnya memperkuat fundamental ekonomi di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik dan tekanan pasar internasional.
Dalam diskusi program Rakyat Bersuara, ekonom Ferry Latuhihin menyampaikan proyeksi yang menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah dan pelaku pasar. Ia menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat jika kondisi ekonomi global dan domestik tidak segera menunjukkan perbaikan.
“Juli dolar kemungkinan ke Rp22.000. Q3 ramalan saya ekonomi kita tumbuh kurang dari 3 persen, bahkan bisa resesi di Q4,” ujar Ferry dalam diskusi tersebut.
Menurut Ferry, pelemahan nilai tukar rupiah tidak semata dipicu oleh konflik internasional seperti ketegangan di Timur Tengah, tetapi juga berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Ia menyoroti penilaian sejumlah lembaga pemeringkat internasional yang memberikan perhatian terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Ferry juga menilai pentingnya melihat indikator ekonomi berdasarkan data pasar dan ekspektasi investor. Menurutnya, dinamika nilai tukar rupiah perlu dipahami sebagai bagian dari respons pasar terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik.
Selain isu nilai tukar, diskusi tersebut juga menyinggung tantangan kebijakan fiskal pemerintah di tengah fluktuasi harga energi global. Dengan harga minyak yang cenderung meningkat, pemerintah dihadapkan pada berbagai pilihan kebijakan terkait pengelolaan anggaran negara.
Ferry menilai kebijakan fiskal harus mempertimbangkan keterbatasan anggaran negara, termasuk dalam menentukan prioritas antara program sosial dan kebutuhan subsidi energi.
Ia juga menyinggung potensi risiko pelarian modal atau capital flight apabila kondisi pasar keuangan mengalami tekanan yang signifikan.
Dalam situasi tersebut, peran Bank Indonesia dinilai penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter.
Diskusi mengenai kondisi ekonomi nasional tersebut menunjukkan dinamika pandangan para pakar mengenai tantangan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.









Be First to Comment